JAKARTA— VOA : Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkirakan lebih dari 350
warga Indonesia berada di Suriah dan Irak untuk bergabung dengan
kelompok militan Negara Islam (ISIS), menurut anggota tim ahli BNPT
Wawan Purwanto.
“Kalau di Suriah
itu sekitar 300-an.. Kalau yang di Irak itu ada 56. Jumlahnya naik turun
lah karena ada juga yang balik lagi terus berangkat lagi,” ujarnya.
Jumlah tersebut meningkat dari yang tercatat pada Agustus 2014 yaitu 56 orang. Tim BNPT masih terus melakukan pendataan dan mengakui kesulitan karena sebagian besar warga negara Indonesia itu telah mengganti identitas mereka dengan nama alias.
“Data masih terus diperbarui. Persoalannya kan tidak sesuai identitasnya dengan nama alias itu maka ini masih perlu cross check untuk validitas," ujarnya.
Menurut Wawan,
para WNI yang berangkat dan bergabung dengan ISIS tersebut tidak
semuanya berangkat dari Indonesia. Sebagian besar merupakan orang
Indonesia yang sebelumnya tinggal di negara-negara kawasan Timur
Tengah seperti Mesir dan Yaman. Rata-rata mereka berusia 17 hingga 25
tahun.
Ketua Umum Nahdhatul Ulama Said Aqil Siradj menyayangkan mudahnya pemuda-pemuda Muslim Indonesia mengikuti ajakan bergabung dengan ISIS.
“Satu, bergentayangannya provokator yang mempengaruhi pemuda-pemuda muslim Indonesia untuk bergabung ISIS. Dua, saya menyayangkan juga kenapa mereka mudah sekali terprovokasi," ujarnya.
Said juga juga khawatir jika mereka kembali ke Indonesia, mereka akan menyebarkan paham radikalisme kepada yang lain.
“(Mereka) akan jadi penyakit.. akan jadi penyakit seperti kepulangannya Amrozi, Ali Ghufron, Mukhlas, dan Imam Samudera dari Afganistan dulu,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap orang-orang tersebut. (sumber : voaindonesia.com)
Jumlah tersebut meningkat dari yang tercatat pada Agustus 2014 yaitu 56 orang. Tim BNPT masih terus melakukan pendataan dan mengakui kesulitan karena sebagian besar warga negara Indonesia itu telah mengganti identitas mereka dengan nama alias.
“Data masih terus diperbarui. Persoalannya kan tidak sesuai identitasnya dengan nama alias itu maka ini masih perlu cross check untuk validitas," ujarnya.
Ketua Umum Nahdhatul Ulama Said Aqil Siradj menyayangkan mudahnya pemuda-pemuda Muslim Indonesia mengikuti ajakan bergabung dengan ISIS.
“Satu, bergentayangannya provokator yang mempengaruhi pemuda-pemuda muslim Indonesia untuk bergabung ISIS. Dua, saya menyayangkan juga kenapa mereka mudah sekali terprovokasi," ujarnya.
Said juga juga khawatir jika mereka kembali ke Indonesia, mereka akan menyebarkan paham radikalisme kepada yang lain.
“(Mereka) akan jadi penyakit.. akan jadi penyakit seperti kepulangannya Amrozi, Ali Ghufron, Mukhlas, dan Imam Samudera dari Afganistan dulu,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap orang-orang tersebut. (sumber : voaindonesia.com)
| Simpatisan ISIS memberi pernyataan di Solo, Jawa Tengah (foto: voaindonesia.com). |
