![]() |
| Zulham S.Pd |
Sungguhpun demikian dan tidak dapat kita pungkiri sebagai orang tua, pendidikan yang penulis maksudkan sudah barang pasti membutuhkan proses, hingga menjalani kurun waktu cukup panjang. Serta urgensi pendidikan dimaksud, wajib terencana secara maksimal dan sistimatis. Baik menggunakan terapan pembiasaan dan latihan, sekalipun diharuskan menunggu jangka waktu yang terlalu lama tanpa batasan, atau disebut "long live education”. Maksudnya pendidikan, merupakan tanggungjawab seumur hidup dan menjadi tugas yang wajib diemban secara concern, segenap orang tua tanpa terkecuali.
Berbagai cara dan upaya dilakukan para orang tua, termasuk guru, ustadz dan ustadzah dalam mengasuh maupun mendidik anak . Yang secara mayoritas berawal dari lingkungan rumah tangga (informal), kemudian berlanjut ke sekolah sebagai lembaga formal, termasuk berbagai elemen kelembagaan yang kini berkembang cukup pesat di tengah – tengah kehidupan masyarakat, di antaranya taman belajar, daiyah, ataupun pesantren. Dan masih banyak lagi lembaga lembaga pemerintah atau masyarakat yang mengambil peran serupa.
Sudah barang tentu tujuan secara keseseluruhannya, berharap akan mampu mengkader anak - anak mereka menjadi putra – putrid yang handal dan berkualitas, sesuai perkembangan teknologi masa kini.
TANTANGAN dan RENUNGAN :
Namun kegagalan dalam mendidik anak tidak sesuai dengan harapan, khususnya bagi orang tua yang menjalani kehidupan di era globalisasi dan dilatar belakangi pesatnya kemajuan teknologi, dari berbagai belahan dunia. Prediksi sementara, harapan mulia para orang terhadap masa depan putra – putri mereka seakan berada di persimpangan jalan. Secara ekstrim dapat dikonklusikan dan tanpa kita sadari, munculnya signal terburuk atau pertanda akan hancurnya generasi bangsa secara perlahan - lahan.
Melirik fenomena terburuk di atas, secara moral sudah sa’atnya kini semua pihak turut bertanggung jawab, demi mempertahankan keutuhan bangsa di pangkuan ibu pertiwi. Serta memberikan penghormatan terakhir terhadap para leluhur terdahulu, sebelum kita dilahirkan bunda tercinta di permukaan dunia ini.
Dan ijinkan penulis, mengajak para pembaca media digital Delinews yang berhati mulia, di manapun berada sa’at ini. Betapa penting, untuk tidak mengagungkan sikap “egois” alias merasa paling suci. Dengan cara, mengkambinghitamkan berbagai pihak lainnya, sebagai factor penyebab memburuknya moral para cikal bakal bangsa. Ironisnya lebih ekstrim lagi, menuding lingkungan sekitar termasuk era yang sedang dilalui maupun lain - lain sebagainya.
Coba perhatikan cuplikan singkat tentang “Abu Jahal” dan nabi Muhammad SAW, ketika mereka hidup pada satu zaman dan lingkungan yang sama. Pertanyaannya sangat sederhana, “mengapa sifat dan watak mereka berbeda?” Walaupun pertanyaan di atas terlalu singkat, bukankah suatu realita yang menarik untuk dikaji lebih detail, terutama para ahli dan penelaah teori maupun praktisi pendidikan ….
Penulis ingin menegaskan, secara hakiki anak yang hadir di singgasana kita merupakan amanah dari Allah SWT, yang tiada ternilai. Justeru karena itu, kedudukan orang tua tergolong sudah menikah atau berumahtangga, sebagai penerima amanah tersebut . Otoritasnya, wajib mengfungsikan pertanggungjawaban yang optimal, hingga di akhir hayat "baik memelihara, melindungi atau mendidik” menurut norma – norma agama masing – masing, termasuk berbagai ketentuan hukum, adat serta budaya. Karena cahaya kehidupan yang terburuk dan terbaik ada di tangan mereka,
Berupa “hitam atau putihnya” masa depan anak, terletak pada niat dan kesungguhan segenap orang tua dalam mendidiknya. Di sisi lain "sahabat Rasullullah SAW, (Khalifah Umar Bin Khatab radiallahu anhu) pernah berkata , "Didiklah anak – anakmu, menurut zamannya”. Akan tetapi, “jangan kau didik menurut zamanmu”. Esiensinya, sangatlah tidak arif jika orang tua mendidik anak di zaman sekarang ini, dengan gaya “tempo doloe”.
Betapa pentingnya segenap orang tua, menghayati penggalan kalimat tersebut secara mendalam. Di sana secara tidak langsung, ada tuntutan terhadap para orang tua dan pelaku didik maupun pihak asuh. Berkewajiban dan mengkonsentrasikan diri, agar fokus terhadap asset yang tak ternilai dimaksud. Melirik kilas balik pandangan dan mentafsirkan pola fikir orang tua terdahulu, ketika memberi nasehat pada calon pengantin yang melangkah gerbang berumah tangga. "Jangan lah kamu menikah karena kebutuhan biologis belaka, tanpa membekali diri dengan kemampuan mendidik anak".
Sejalan dengan hal tersebut diatas, Ulama hikmah (mujtahid ) menyimpulkan ,
“orang yang tidak mampu mendidik dan mengasuh anak – anak mereka, bagaikan lembu keberatan membawa tanduknya sendiri”. Perlu diingat, di akhirat kelak Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban, kepada setiap orang tua sebagai pemegang amanah dimaksud. Dan yang menjadi agenda utama terhadap paparan penulis di atas, “bukan berapa jumlah anak yang kita miliki”. Namun lebih mendasar lagi, “sudah berapakah anak sholeh, yang lahir hari ini”. Allahu Akbar…

