Doa merupakan ungkapan hati yang tulus, bernuansa haqiqi, terlafazkan dengan kalam,
tertuju hanya kepada Allah Tuhan yang maha memiliki dan maha pemberi petunjuk.
Selain itu, doa juga menggambarkan mohon dan pinta seorang hamba yang lemah,
kepada Allah Tuhan Yang Maha Perkasa dengan segala kehendaknya.
Aneka
ragam
bentuk keinginan dan kehendak diri, datang mengejar hati dan fikiran.
Dan tidak
sedikit manusia, terperangkap di lingkaran “kelalaian”. Lalai dimaksud,
tentu saja dalam pengertian yang sangat luas. Lebih riskan tentunya,
jika hati kita
lalai kepada Allah. Yaitu Tuhan yang telah menjadikan diri dan kehidupan
kita, di atas dunia ini. Sudah barang pasti jika suasana
hati seperti ini, akan menjauhkan kehidupan kita dari cahaya atau rakhmadnya Allah Maha Pencipta alam semesta.
PENTINGNYA DO'A
Allah
Maha Pencipta langit dan bumi, serta Yang Maha Memiliki segala -
galanya. Allah telah mengkarunia akal dan fikir pada diri manusia.
Artinya agar manusia dapat mempergunakannya gua kemaslahatan hidup.
Dengan akal dan fikiran,
manusia diberi kewenangan dalam berfikir maupun mengambil sikap. Dengan
kesimpulan, mampu menentukan pilihan
yang benar.
Di
sisi lain, kekuatan akal dan fikir yang telah mendapatkan cahaya atau
rahmad Allah Subhana Wata'ala, mampu
merubah kegelapan menjadi terang benderang. Atau terhadap sesuatu yang
tak mungkin berubah, agar mengalami perubahan dan tak dapat kita
pungkiri, terkecuali atas izin Allah semata.
Tatkala
menghadapi
kesulitan hidup, kita sadar bahwa itu bagian dari ujian yang
diberikan Allah. Namun sebaliknya, detak jantung disertai kegelisahan di
hati, tak dapat dihilangkan. Hal ini disebabkan ketidak sabaran, serta
tak mampunya kita memahami
makna "tersirat", di balik masalah yang datang.
Itulah diri manusia yang di
jadikan Allah, senantiasa dalam keresahan, ketidakpuasan, selalu menuntut
kelebihan, penuh keraguan, bimbang dalam keputusan, serta syak wasangka
berselimutkan sifat tamak dan loba, maupun lain sebagainya. Ironinya sangat sedikit
sekali mensyukuri atas nikmat yang Allah limpahkan kepadanya.
Jika keadaan diri yang seperti ini, kemanakah kita hendak lari. Untuk menyelamatkan
diri kita? Mana kegagahan diri kita, tatkala seperti itu?
Allah
memperingatkan
kita dalam firmanNya, “Ingatlah kepadaku niscaya aku ingat kamu". "Dan
apabila kamu ingat aku, niscaya hati menjadi tenang". "Pintalah olehmu
dengan
sunguh – sungguh niscaya akan aku kabulkan”. Demikian banyak Allah
memberikan
jalan terhadap manusia, agar senantiasa di peliharakan dan dilindungi.
Pemahaman
terhadap betapa agungNya Allah, dengan segala kesempurna'anNya. Tentu akan
menyadarkan kita, betapa dhaifnya manusia dihadapan Allah. Selaras pula dengan
pengakuan yang di kalamkanNya “Laa haula wala quata ilabil lahhil aliiyiladzim”
Do'a yang kita
panjatkan kepada allah dalam setiap waktu, dimaksudkan juga sebagai hubungan
manusia kepada Tuhannya. Do'a wajiblah juga disempurnakan dengan usaha atau aktifitas, agar membuahkan hasil. Allah tidak
akan menurunkan emas dari langit, walau tengadah tangan beribu tahun lamanya.
Maksudnya,
kalau
berdo'a saja tanpa diringi usaha yang sungguh – sungguh, hasilnya
nihil. Maka jelaslah do'a saja, tidak akan memberi manfa'at bagi manusia
yang hidupnya sepanjang abad bermalas - malasan, alias hanya menanti
takdir..
Perlu
disadari,
berusaha saja tanpa di iringi doa hasilnya tidak memberi keberkahan.
Meskipun berhasil, ada saja kendala yang membuat hidupnya terasa tidak
nyaman atau sakit. Rezeki yang kita terimapun akan habis sia – sia.
Perlu di ingat, yang boleh berdo'a saja dan tidak
dituntut baginya berusaha. Hanyalah bagi orang yang menderita sakit keras, orang
tua akibat sudah udzur karena usia, termasuk mengalami kelumpuhan anggota gerak tubuh. Ditambahkan
lagi, orang yang diluar Islampun tetap berdo'a dan bekerja sesuai
keyakinannya, dengan semboyan "ora et lebora". Konon pula kita yang
meyakini Islam sebagai
keberkahan karunia dan keselamatan yang "Rakhmatan lil Alamin".
Disadari ataupun tidak, lazimnya do'a sangat dirasakan dapat membangun energi bagi orang mukmin, dalam menghadapi berbagai problema di alam kesaksian atau musyahadah. Akhirul kata penulis mohon diri "Bil lahi bil makruf wassalamualaikum". (y)

