![]() |
| “Nyamuk Aedes Aegypti ” |
Peristiwa tragis tersebut, dialami Erna warga Kelurahan Binjai Kecamatan Binjai Kota, yang mengaku kehilangan anaknya untuk seumur hidup. Dikarenakan anaknya meninggal dunia, setelah dijangkiti wabah penyakit ‘demam berdarah’, tutur Erna kepada Delinews.
Kata Erna, akibat gigitan “Nyamuk Aedes Aegypti ”, hingga anaknya mengalami demam tinggi, mual dan nyeri dihulu hati, sehingga anaknya harus menghembuskan nafas terakhir, papar Erna diiringi tetesan air mata penuh kepiluan.
Tak berselang lama, peristiwa serupa menimpa tetangga saya, ujar Erna melanjutkan percakapan. Artinya hanya kurun waktu satu minggu, setelah anaknya meninggal dunia. Anak tetangga kami juga meninggal dunia, karena terjangkit demam berdarah ”.
Kami khawatir wilayah Kelurahan Binjai ini, sudah terjangkit wabah penyakit demam berdarah, lanjut Erna memperjelas. Erna berharap, Pemerintah Kota Binjai segera mengambil tindakan tegas, melakukan pemberantasan terhadap mewabahnya “Nyamuk Aedes Aegypti ” di pemukiman warga. Dan tidak harus menunggu banyaknya korban, akibat nyamuk berbahaya tersebut.
Sementara pantauan Delinews Kamis (29/10), serangan nyamuk yang sangat berbahaya itu muncul, setelah turun musim hujan di bulan ini. Besar kemungkinan serangan nyamuk tersebut terjadi, karena tidak effektifnya program kegiatan foging (Pemberantasan pengasapan).
Yang dilaksanakan instasi terkait khususnya Dinas Kesehatan Kota Binjai. Padahal dana foging, yang sudah digelontorkan melalui APBD Kota Binjai untuk Tahun Anggaran 2015, melebihi Rp 0,5 milyar atau tercatat Rp 582juta.
Liputan : Drs M Arifin Pohan/(Exed)

