Pesan Buat Sahabatku
Para Jurnalis
Oleh : Tony
Hermansyah, drg. (Penjab/Pemred Delinews Online)
Seorang budayawan
Indonesia, Chairil Anwar dalam sajaknya
“Aku” begitu optimis menyikapi hidup
di zamannya. Dalam kondisi jiwa yang tertekan akibat penyakit yang dideritanya dan saat itu kondisi zamannya sangatlah bergejolak, namun kemauan
agar eksistensi dirinya sebagai “seniman
vocal” tetap terjaga begitu kental dalam karya - karyanya.
Semangat hidupnya sedemikian tinggi dan jangkauan pemikirannya jauh kedepan yang menyebabkan hasil karyanya tetap hidup melampaui batas usianya sendiri. Harga diri profesinya sebagai budayawan, tidak terjual oleh uang dan bujuk rayu. Coba simak, kata demi kata yang dirangkainya menjadi satu karya sastra, yang dapat memotivasi hidup banyak orang;
Aku… Kalau sampai waktuku.., Kumau tak seorang kan merayuku…,Tidak juga kau tak perlu sedu sedan itu… Aku ini binatang jalang…dari kumpulan yang terbuang… Biar peluru menembus kulitku… Aku tetap meradang menerjang…., yang kemudian baris akhir sajaknya disebutkan “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”
Semangat hidupnya sedemikian tinggi dan jangkauan pemikirannya jauh kedepan yang menyebabkan hasil karyanya tetap hidup melampaui batas usianya sendiri. Harga diri profesinya sebagai budayawan, tidak terjual oleh uang dan bujuk rayu. Coba simak, kata demi kata yang dirangkainya menjadi satu karya sastra, yang dapat memotivasi hidup banyak orang;
Aku… Kalau sampai waktuku.., Kumau tak seorang kan merayuku…,Tidak juga kau tak perlu sedu sedan itu… Aku ini binatang jalang…dari kumpulan yang terbuang… Biar peluru menembus kulitku… Aku tetap meradang menerjang…., yang kemudian baris akhir sajaknya disebutkan “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”
Saat aku mulai menjalankan tugas sebagai “masinis jurnalis” jangan salahkan kami ketika “gerbong junalis” ku menggilas kezaliman dan ketidakbenaran yang melintang di rel yang kami lalui.
Let you know
Each day I love my job as journalist
This day more than yesterday and less more
than future
I love my job not because of what it is
but because of…..
Who I am when I am with my job
Luar biasa rangkaian kata dalam karyanya, tegas, berani dan dinamis dalam menyampaikan buah pikirannya.
Bagaimana dengan kita
yang sudah memilih jalan hidup di dunia jurnalistik? Sebagai Penggiat Pers sudah sepatutnya kita selalu menjaga komitmen dalam menjalankan tugas jurnalistik sesuai dengan amanat dalam pasal
demi pasal yang tertuang di Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 40/1999 tentang Pers.
Kebebasan Pers bukan berarti bebas melakukan tindakan dan menyampaikan berita sesuka hati kita, atau sesuai dengan “titipan berita”
dari oknum atau kelompok untuk mendiskreditkan oknum atau kelompok tertentu demi kepentingan. "Jangan jual Harga Diri profesi Jurnalis".
Berjalanlah di “rel” yang kita miliki sehingga berita yang disampaikan adalah berita yang berimbang, akurat dan benar, bukan berita opini yang mengarah ke agitasi dan fitnah. Tujuannya adalah bagaimana agar karya kita di mata public menjadi berita “deli” yakni dinamis, edukatif, lugas dan inovatif. Untuk itu, kupersembahkan “delinews.com” bagimu sahabat jurnalisku, sebagai media digital yang selalu menuntut perkembangan kualitas profesi dari masa ke masa.
Berjalanlah di “rel” yang kita miliki sehingga berita yang disampaikan adalah berita yang berimbang, akurat dan benar, bukan berita opini yang mengarah ke agitasi dan fitnah. Tujuannya adalah bagaimana agar karya kita di mata public menjadi berita “deli” yakni dinamis, edukatif, lugas dan inovatif. Untuk itu, kupersembahkan “delinews.com” bagimu sahabat jurnalisku, sebagai media digital yang selalu menuntut perkembangan kualitas profesi dari masa ke masa.
Perlu diingat bahwa ketika kita menulis tentang kezaliman dan ketidakbenaran secara lugas dan tegas agaknya perlu memilih kata-kata santun dan ataupun
“kiasan” yang publik memahami maknanya. Walau konsekwensinya pasti ada
yang terusik…jangan takut ketika kita masih berjalan
di “rel” nya undang-undang. Selamat bertugas!

