• RSS
  • Twitter
  • Facebook

Banner 468 X 60

Tayangan Berita Terbaik Dirangkum Khusus Untuk Anda!

Tuesday, February 24, 2015

Renungan Kalbu

Maukah Kita Memaknai Janji
Oleh : Tony Hermansyah, drg Penjab/Pemred Delinews Online
 

Sakit dihatiku bukan karena cemburu, sakit dihati karena janji. Janji-janji yang telah kau ucapkan kok sedemikian mudah kau ingkari. Ungkapan ini selalu terdengar, bahkan jika disertai emosi maka ungkapan akan menjadi kasar dan menantang. Hal ini bisa saja terjadi di semua lapisan kehidupan, baik itu dikalangan muda yang sedang pacaran, suami istri, sesama sahabat, antara atasan dengan bawahan sampai antara pemimpin dan masyarakat pemilihnya.


Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita mampu memaknai hakekat sebuah janji ketika kita masih diberi “waktu” oleh Sang Pencipta? Pada hakekatnya janji merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban moral yang vertikal dan horizontal. Secara vertikal konteksnya adalah tanggung jawab kepada Allah dalam hubungan “habluminallah” dan secara horizontal tanggung jawabnya adalah terkait hubungan sesama manusia atau habluminanas.


Janji dapat diucapkan seseorang dengan berbagai macam alasan; ada janji karena berlatar belakang politis untuk mencapai tujuan tertentu, jabatan yang dikehendaki, janji karena didesak “debt collector” yang berlatar belakang utang piutang atau kondisi tertentu, dan janji suci saat akad nikah yang keluar dari ungkapan rasa cinta, sayang, dan tanggung jawab dunia akhirat dalam hubungan keluarga. 

Namun apapun alasan sebuah janji, konsekwensinya adalah bahwa  ketika janji sudah terucap, maka hal tersebut sudah menjadi hutang yang wajib ditunaikan. Nah lo, masih main-main dengan janji?  Jangan jadikan janji yang awalnya dapat bermanfaat bagi pemberi dan penerima janji menjadi hal yang mendatangkan mudarat bagi kedua belah pihak. Renungkanlah, saat kita mengucapkan kata yang tidak benar dan ternyata kemudian kita mengingkari janji, apakah hal ini masih dikatakan diri kita tidak munafik?

Harus kita sadari, bahwa dosa dan kesalahan kita akibat ingkar janji baik kepada orang perorangan dan ataupun kepada publik, patut kita berjiwa besar untuk muhasabah diri dengan ikhlas. Dalam konteks habluminallah, hanya kepada Allah kita dapat lakukan permohonan ampun dengan bersungguh-sungguh sembari berserah diri kepada Nya yang kemudian bertaubat nasuha, semoga Allah mengijabahnya.

Kebanyakan kita berpikir praktis bahwa usai jadi Pejabat, usai menjalani “hukuman” setelah kenyang korupsi dan mengingkari janji politiknya cukup hanya dengan umroh, menunaikan ibadah haji, mohon ampun kepada Allah dan taubat nasuha maka selesailah sudah. Ooww… itu aja blom cukup bro. Bagaimana dengan orang-orang yang kita zalimi atas dasar sebuah janji? Akan menjadi beban moral yang sangat berat bagi orang-orang yang mengingkari janji  dalam konteks habluminanas. 

Pertanyaannya, apakah mau orang-orang yang dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin di negeri ini untuk meminta maaf kepada kelompoknya, bawahan serta masyarakatnya ketika dalam menjalankan Sumpah Janji yang diikrarkan ternyata kemudian dilanggar secara sengaja atau tidak? 

Jangan sombong, gengsi, atau takut kehilangan elektabilitas (pamor) kita sebagai Pejabat ketika kita meminta maaf atas sebuah janji yang terabaikan, dan sengaja diingkari, karena akan lebih mulia seseorang yang dengan sadar meminta maaf atas janji yang diingkari saat di dunia dibanding saat dia tertatih-tatih “mencari” orang-orang yang dizaliminya di akhirat hanya untuk sebuah kata maaf sebelum ditimbang pahala dan dosanya.


Bukan hanya Pejabat, kita perlu memaknai janji dalam konteks hubungan antara suami istri yang mungkin salah satunya “bermain” dengan PIL atau WIL nya, hubungan persahabatan dan seorang professional dalam mengaplikasikan Sumpah Janji Profesi nya.

Nah… sebagai praktisi bidang jurnalistik, para jurnalis juga harus tunaikan janjinya sebagai pembuat berita yang baik dan benar. Jangan takut untuk membuat berita tentang orang-orang yang ingkar janji. Masyarakat butuh informasi tentang semua hal yang bersumber dari yang benar. Mari kita mendidik pola pikir dan pola sikap masyarakat menjadi baik dan benar dengan menulis berita yang tidak memprovokasi dan tidak menjustifikasi.

Jurnalis bukanlah seorang polisi, jaksa atau hakim, tapi seorang jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistiknya telah berjanji untuk menyampaikan berita yang benar tentang kondisi yang terjadi di masyarakat sekeliling kita, tentang apa yang dilakukan oleh Para Pemimpin kita. Maka tunaikan janji kita sesuai dengan yang kita ucapkan dan sesuai dengan bidang apa yang kita lakoni di dunia yang fana ini. Ya Allah, mudahkan kami menunaikan janji, ingatkan kami saat ada janji yang tertunda dan ampunkan kami jika ada janji yang terabaikan.

Online Visitors


Popular Posts

Subcribe

Sign up and receive for eNews & Updates post direct to your email.
download free blogger template everyday download free blogger template everyday download free blogger template everyday download free blogger template everyday

My Video