OLEH : MAULANA MAUDUDI
Etalase Kehidupan, Kehadiran Kaca-Kaca Dalam Sapu Wajah
Sesungguhnya hidup ini menjadi serba salah kalau kita selalu berpedoman dengan pendapat orang banyak, karena tidak semua pendapat orang betul, seperti pepatah melayu “Mendengar pendapat orang banyak laksana alu mencungkil duri”. Adapun maksud pribahasa ini adalah “duri bukan tambah keluar, tapi semakin masuk menghunjam daging”. Konsekwensi logis dari pemahaman yang dimaksud dengan melahirkan pendapat kita sendiri serta menerima masukan orang pandai (pintar,cerdas,arif dan bijaksana) yang kita yakini kebenarannya.
Beberapa contoh yang sangat strategis patut kita ke depankan sebagai bahan renungan kita adalah, Ketika kita kaya dibilang orang korupsi dan menipu, Ketika kita miskin dibilang orang bodoh atau tak pandai cari makan, Ketika kita pandai dibilang orang otak kotor dan sebagainya, Ketika kita bodoh dibilang orang tidak berotak atau otaku udang, Ketika kita baik dibilang orang boros, Ketika kita hemat dibilang orang pelit, Ketika kita banyak cerita dibilang orang suka membual atau tukang rabul dan Ketika kita diam dibilang orang sombong.
Inilah bermacam-macam pendapat orang banyak yang akhirnya menyesatkan kita. Sebaik-baiknya orang yang menggunakan akal sehatnya adalah dengan berbuat untuk kepentingan orang banyak dengan ikhlas. Yakinlah dengan niat kita yang baik.Insya Allah di bantu Tuhan pada setiap langkah kita untuk mendapatkan qadar keimanan yang hakiki.
Adalah secercah perubahan yang kerap menjadi sebuah alasan untuk menjustifikasi segala macam hal yang berkaitan untuk menggapai harapan yang baik secara langsung maupun tidak langsung, akan membawa dampak positif terhadap makna perbahan yang diharapkan.
Sebab yang patut menjadi telaah kita bersama adalah, perubahan tidaklah menjamin terhadap suatu perbaikan. Apalagi sampai kita berharap dengan perubahan akan menjadikan kita untuk lebih baik lagi. Karena walau bagaimanapun, untuk menapak terhadap rangkaian perubahan, gezah perbaikan akan sangat berkaitan erat terhadap signifikansi perubahan yang dimaksud.
Dan bukan menjadi sebuah alasan, akibat ketidakmampuan kita untuk lebih sikap dalam menindaklanjuti artikulasi kecerdasan yang akan membawa positif terhadap perubahan, maka tidaklah terlalu berlebihan kiranya jika akan sangat lebih tepat untuk kita semua agar lebih konsisten meningkatkan kualitas berfikir peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) secara positif progresif dan meningkatkan etos kerja yang lebih inovatif dan konstruktif.
Karena yang menjadi magnet diskursus Indonesia Hebat adalah perbaikanpun tidak akan mungkin dapat terjadi, jika tidak dilakukan sebuah upaya penanganan perubahan yang benar-benar menyentuh seluruh sendi kehidupan anak bangsa. Maka sebuah upaya pengejawantahan menjadi sebuah tradisi konkrit yang diharapkan mampu menjembatani seluruh perpaduan akselerasi komponen anak bangsa menuju Indonesia yang lebih hebat lagi.
Kenyataan yang tak terbantahkan dari keinginan menuju sebuah tujuan, tentu saja adalah sebuah tuntunan kodrati yang sangat patut menjadi bingkai kebersamaan dalam merajut asa menuju cita. Sehingga tatkala iringan langkah demi menggapai cita yang diharapkan dari tujuan yang dimaksud, akan memberikan pelangi bathiniah yang tiada terhijab.
Maka adalah sebuah keindahan untuk diri seorang insan, pada saat rajutan yang membingkai perjalanan sebuah tujuan, akan semakin berpacu terhadap kesungguhan untuk menempatkan makna yang dipandang perlu untuk menikmati sebuah kepantasan yang akan terlahir dari sandaran tujuan dimaksud.
Pada proses inilah, kita sering dihadapkan oleh sebuah kenyataan yang menuntut kita untuk mau tidak mau, bahkan suka atau tidak suka, atau mungkin saja senang atau tidak senang, bahwa ego sentries menjadi alat utama pemicu kehendak demi tercapainya niatan pada sandingan impian meluluh lantakkan sebuah kesumat beralaskan dendam yang tiada bertepi.
Walau pada akhir sebuah proses tujuan yang digadang-gadangkan dibungkus indah bak hidangan bermenu penuh aneka rasa kelezatan yang bercampur kenikmatan, semakin membuat keyakinan menjalani segalanya yang bermaksud dengan alasan sebuah tujuan, akan lebih terasa indah dengan cita rasa bermarwah pada jalan menuju kepada tujuan yang dimaksud.
Oleh karena itu, hadirnya manusia ke muka bumi dengan predikat khalifah, tentunya baik secara langsung maupun tidak langsung, akan menempatkan kemulian sang insan berada dalam pada tataran kesempurnaan sebagai makhluk yang diciptakan Allah.
Padahal dengan kehadiran sang insan sesungguhnya berhakikat bukan semata mencari kesempurnaan atas ketidaksempurnaan kita belaka. Namun lebih jauh dari pada itu, sikap mengasihi yang ada pada setiap insan yang berkesempatan untuk mencari seuatu yang tidak sempurna, untuk dapat lebih lebih jauh memahami segala ketidaksempurnaan yang membaluti setiap jati diri hamba ciptaan Allah.
Maka adalah proses belajar yang benar-benar untuk menempatkan sebuah bekal keyakinan kita untuk lebih memahami akan betapa hebatnya kekuatan yang mengiringi lintasan kehidupan kita, untuk lebih saling mengasihi dengan melihat orang yang tidak sempurna.
Sehingga apapun yang menjadi segala cobaan, rintangan kita sebagai insan yang ingin menempatkan harkat dan martabat sesuai dengan harapan yang diinginkan adalah dengan senantiasa terus dan terus berupaya melakukan proses pembelajaran yang diharapkan mampu untuk membimbing kita menjadi seorang insan yang dapat lebih memahami akan ketidaksempurnaannya.
Intinya kita datang untuk mengasihi tidak dengan mencari orang yang sempurna, tapi dengan belajar melihat orang yang tidak sempurna dengan sempurna.
Sehingga rekam jejak masa lalu adalah sebuah fenomena yang membuat siapapun orangnya akan merasakan betapa segala sesuatu yang dirasakannya pada masa lalu tersebut, merupakan sebuah kenyataan yang memastikannya terbentuk dengan rangkuman saat ini.
Dan ketika hari ini berlangsung sebuah sesuatu yang ingin menempatkan kita kepada hal-hal yang dianggap mampu memberikan nuansa terindah dalam pengembanan sikap berwujud tanggungjawab akan fitrah kodrati kita selaku hamba Allah yang dhaif di muka bumi ini.
Sehingga sebuah kepastian yang ingin di dapat dengan melakukan segala hal terbaik yang mungkin saja dianggap mewakili keterbaikan yang diharapkan, juga tidaklah akan serta merta menghadirkan sesuatu yang terbentuk menjadi kenyataan yang akan merubah sesuatunya dengan seketika.
Setidaknya, datangnya sebuah kepastian untuk mendapatkan impian dan harapan yang seyogianya berjalan sesuai kenyataan yang diinginkan, juga membutuhkan proses yang sangat memungkinkan akan kesiapan serta kesiagaan kita menatap hari esok yang lebih tertata apik sesuai dengan konsekwensi logis sebab akibat dari perbuatan kita menuju kepastian hari esok.
Dan sudah bukan menjadi rahasia lagi, jika dalam kehidupan anak manusia di dunia Allah, kerap selalu serba menuntut dan tidak pernah puas dengan segala sesuatu yang telah di dapatkan. Sekaya apapun orang tersebut, tetap saja berupaya untuk mengejar setiap kesempatan untuk mendapatkan rezeqi.
Maka sesungguhnya bukanlah kekurangan rezeqi yang menjadi sebuah keniscayaan, namun pola hidup “sedikit cukup, banyak kurang”, menjadi suatu kebiasaan. Karena ketidakmampuan kita untuk melakukan tindakan.
Padahal dengan mencintai rezeqi dengan landasan fitrah kodrati untuk mengetahui akan tindakan terbaik yang dilakukan di setiap bahagian hidup dan kehidupan anak manusia, adalah kerinduan akan mendapatkan rezeqi dimaksud. Dan sebagai hamba Allah, jalinan harmonis terhadap kebersamaan adalah keutamaan untuk menyingkap tabir rezeqi.
Sehingga dengan ketidak kehadiran kita di tengah-tengah orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, menjadikan orang-orang tersebut penuh kerinduan. Dan disela lamunan mereka di dalam keriuhan pesta, akan menjadi sebuah pengharapan terhadap secercah tindakan untuk menggapai kerinduan terhadap rezeqi dimaksud.
Perubahan dalam hidup adalah suatu yang sangat didambakan oleh kita semua selaku insan di muka bumi ini. Dan untuk menuju kepada peubahan hidup yang lebih baik, merupakan impian yang wajar untuk meraih secercah harapan yang membuat masa depan hidup untuk lebih baik lagi.
Seiring kita mendengar, melihat, merasakan bahkan melakukan desakan terhadap orang-orang disekeliling kita untuk berubah. Namun pada dasarnya janganlah sesekali untuk memaksakan orang untuk berubah. Karena walau bagaimanapun, berubah itu tidak mudah dan penuh dengan kesukaran.
Karena landasan utama menjalankan perubahan adalah berkasih sayang. Dengan melakukan perubahan tidaklah segampang lisan berkata dan membalikkan telapak tangan untuk sesuatu yang kita anggap mudah. Dan yang pasti, setiap kemudahan akan dengan sendiri menaungi setiap langkah perubahan yang diinginkan untuk memperbaiki sebuah mutu dalam kehidupan.
Karena pada dasarnya juga, Zat Allah Yang Maha Suci akan selalu memberikan berbagai kemudahan untuk berubah selagi hambanya menginginkan terjadinya perubahan dengan upaya dan langkah tegas untuk menjalankan perubahan yang diinginkannya.
Sehingga pada sebuah tumpuan akhirnya yang diharapkan, kesukaran untuk berubah akan menempatkan kita semua untuk lebih secara konkrit melakukan perbuatan yang menunjukkan sikap tanggungjawab kita untuk berubah menjadi lebih baik lagi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa segala kenyataan yang kita hadapi di dunia ini ada kemungkinan. Karena walau bagaimanapun, setiap hal yang menyangkut sesuatu kepastian, akan dapat dilakukan atas adanya kemungkinan untuk mendapatkan harapan sesuatu yang lebih baik pula menuju kepada kenyataan yang pasti.
Maka syah-syah saja kiranya, jika arah kepastian yang kita tatap adalah mempertanyakan sampai sejauh mana kemungkinan menuju kepastian yang diinginkan. Sebab dengan adanya kemungkinan, sudah barang tentu akan berdampak kepada nilai-nilai kepastian yang akan menjalar kehadapan kita.
Sebagai sebuah permisalan adalah dengan keinginan kita menjadi kaya, merupakan positif thinking dari sebuah kemungkinan. Dan siapapun berhak untuk berkemungkinan menjadi kaya. Namun suatu hal yang membaluti atas kepastian antara kemungkinan kaya ataupun tidaknya seseorang, adalah kepastian tujuan dari kemungkinan itu sendiri.
Dan bicara kepastian, maka kematian jualah yang tiada berkemungkinan. Dengan menjalani setiap tujuan maka yang menjadi sebuah kemungkinan tetap akan mempunyai unsur yang tidak pasti. Dan dengan memastikan sebuah kematian bagi yang kaya ataupun tidak, adalah kepastian kemungkinan hakiki jalan menuju Sang Khaliq.
Maka seyogianyalah untuk setiap hal yang kita jalani di dunia ini, akan lebih indah kita menghadapinya, jika kalimat INSYA ALLAH senantiasa menyertai lisan yang berbingkai perbuatan. Sehingga seluruh kemungkinan apa pun yang kita jalani di dunia ini, tidak akan pernah membuat kita jengah, apalagi selalu berburuk sangka menuju kepastian asa yang kita idamkan.
Sebab keniscayaan akan sebuah keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dalam perjalanan hidup, adalah kelumrahan yang sepatutnya menjadi acuan setiap insan yang benar-benar menempatkan setiap kehendak yang diinginkannya sesuai dengan jalan yang ditentukan.
Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, adalah sebuah proses lahiriah yang harus menjadi acuan terhadap batas kelaikan yang diharapkan. Sebab walau bagaimanapun, keutamaan untuk meletakkan pondasi adalah pada setiap tempat ada perkataan yang patut untuk diucapkan ataupun disampaikan dan dari perkataan yang diluncurkan juga mempunyai tempat yang pantas untuk diutarakan.
Maka sesungguhnya dalam menentukan ikhtiar dalam kisah mewujudkan asa menuju cita yang diharapkan, kita tidak hanya selalu berpedoman kepada batasan tertentu yang membuat akhirnya kita menjadi terkungkung pada tapal batas yang menepi.
Inilah saatnya kita sebagai insan yang dibekali oleh sang khalik dengan kualitas otak yang dibarengi tingkat akal untuk memikirkan segala sesuatunya untuk didapatkan sesuai target yang diharapkan. Sebenarnya tiada istilah takut untk bermimpi akan sebuah harapan. Karena dengan memimpikan harapan yang sebesar apapun atau juga setinggi langit, merupakan motivasi buat kita untuk merengkuh kaisan cita yang telah kita gulirkan.
Tiada yang harus diragukan. Dengan menembus batasan subjektifitas berfikir kita, dipastikan akan menjadi kendali terhadap objektifitas kita untuk dapat dengan teguh merajut setiap kata yang bertempat serta setiap tempat yang berkata demi mengentaskan upaya dan usaha kita demi mendapatkan yang terbaik dalam mengarungi hidup dan kehidupan di dunia Allah ini.
Sekelumit nukilan di atas adalah wacana alamiah yang menjadi sandaran sesuatu yang acak-acak “kebalikan dari kata KACA-KACA”. Karena substansi adanya berbagai macam bentuk kehidupan di muka bumi ini adalah sesuatu yang acak-acakan. Sehingga dengan keacak-acakan tersebut, membuat kita harus setiap saat berinstropeksi terhadap kaca-kaca kehidupan yang akan sangat memungkinkan tertata dengan apik melalui sapuan wajah. Dan dengan sapuan wajah inilah nantinya akan kita dapati artikulasi menuju tangga langit yang dapat kita tuai sesuai dengan kaedah kehambaan kita kepada Sang Maha Pencipta. Amin Ya Rabbal Alamin.

