• RSS
  • Twitter
  • Facebook

Banner 468 X 60

Tayangan Berita Terbaik Dirangkum Khusus Untuk Anda!

Monday, March 9, 2015

Putra Nelayan Langkat Bertapak di Istana Negara

OLEH : MAULANA MAUDUDI
(WAPEMRED II DELINEWS)


HAMZAH ZAKARIA
(Putra Nelayan Langkat Bertapak di Istana Negara)

Tokoh Kharismatik Langkat yang Terlupakan
 
Jika sejenak kita menguak sekelumit lintasan rekam jejak seorang Hamzah Zakaria yang dilahirkan di Kwala Serapuh Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat bertepatan pada tanggal 12 April 1942, di gugusan Desa Pantai yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Ayahnya seorang putra nelayan yang turut berjuang untuk Kemerdekaan Republik Indonesia selaku PALANG MERAH, anak buah dari RAMLI AZIZ beralamat di Gebang. Ayahnya meninggal dunia setelah  Hamzah Zakaria berumur dua tahun, dengan meninggalkan dua orang anak yaitu Hamzah dan adiknya. Disebabkan hal ini Hamzah hanya dirawat oleh ibunya saja. Karena ibunya kurang mampu untuk biaya mendidik anak, maka Hamzah Zakaria diberikan kepada seorang guru di Jalan Cengal Medan. Oleh karena ayah angkatnya itu seorang lajang, kemudian dititipkan pada adiknya yang berstatus sebagai Guru SD di Pangkalan Susu.

            Tidak berapa lama kemudian ibunya pun pindah ke Pangkalan Susu bekerja di pabrik bakaran arang sambil bertani di Desa Kwala Serapuh. Ia hanya tinggal sampai kelas empas SD, di Pangkalan Susu Hamzah Zakaria menamatkan SD dan meneruskan sekolah lanjutan SPG (SMP untuk sekarang) di Pangkalan Brandan dengan berulang dari Pangkalan Susu. Tamat dari SPG ia dibawa ayah angkatnya ke Medan, dan ia dibekali ibunya uang hasil penjualan dari kebun pusaka milik ayahnya sehinga dapat melanjutkan sekolah SMA dan kuliah selama dua tahun.

            Karena kehabisan biaya Hamzah Zakaria pun pulang kampung menemui ibunya. Ia menjadi nelayan di Pangkalan Susu selama lebih kurang lima tahun, tiba-tiba ibunya meninggal dunia sehingga ia pulang ketempat kakaknya di Kwala Serapuh. Di kampung kakaknya itu ia diangkat penduduk menjadi Guru SD yang honornya di bayar secara sukarela oleh penduduk. Dan pada saat ia sudah berumah tangga biaya mengajar tiak mencukupi, akhirnya ia berhenti mengajar dan menjadi nelayan.

            Tak berapa lama kemudian Hamzah Zakaria pun ditunjuk menjadi Ketua Ranting NU (Nahdatul Ulama) Kwala Serapuh hampir pada waktu yang sama ia pun diangkat menjadi Wakil Ketua HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Kabupaten Langkat.

            Sepuluh tahun kemudian, ia terpilih menjadi Kepala Desa Kwala Serapuh. Selama menjadi Kepala Desa, ia menghapuskan jamu laut karena menurut apa yang ia pelajari tentang agama Islam bahwa jamu laut itu sarat dengan pekerjaan syirik dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Ia mengganti jamu laut dengan pesta pantai yang berdampai bagi ekonomi untuk penduduk dan berlanjut sampai saat ini.

            Karena Ketua HNSI Kabupaten Langkat yang ada pada waktu itu dijabat oleh ILYAS MAMATO meninggal dunia, pemilihan untuk penggantinya pun dilakukan. Alhamdulilah Hamzah Zakaria pun terpilih menjadi Ketua HNSI Kabupaten Langkat pada waktu yang bersamaan ia juga diangkat menjadi Ketua KPSA (Kelompok Pelestarian Sumber Daya Alam) Kabupaten Langkat.

Maka baik secara langsung atau tidak langsung, sedikit banyaknya sepak terjang Tokoh Kharismatik Langkat yang masih menjadi legenda hidup ini, akan memberikan inspirasi penuh kepada kita semua disertai sentuhan qalbu yang dapat membawa kita senantiasa tunduk dan patuh pada jalan keilahiyatan dan mampu membumikan diri menjadi insan yang dicintai Tuhannya.

            Kini, walau seorang Hamzah Zakaria berada di kursi pesakitan selama lebih kurang 16 Tahun dan acap kali diisyukan telah meninggal dunia, namun semangat juang revolusionir yang tertanam di jiwanya senantiasa tetap membuat Hamzah Zakaria sabar dan tabah dalam menjalani ketentuan sunatullah yang dihadapinya.

            Tinta emas telah digoreskannya pada perjalanan sejarah kebesaran seorang anak nelayan dan pesisir pantai Langkat, yakni ketika di masa H. Zulkifli Harahap menjabat sebagai Bupati Langkat, tanpa pernah diduga oleh akal sehat manusia, undangan dari sang Presiden Orde Baru HM. Soeharto kepada Bupati Langkat untuk datang ke Istana Presiden di Jakarta bersama seluruh Bupati dan Walikota se Indonesia dalam sebuah acara membahas masalah nelayan di Republik Indonesia.

            Dan tanpa disangka, Zulkifli Harahap selaku Bupati Langkat saat itu, memerintahkan Hamzah Zakaria agar segera berangkat memenuhi undangan Presiden Soeharto mewakili dirinya. Adapun asalan Zukifli, selain hal-hal pekerjaan sema itu yang tidak dapat ditinggalkannya, menurut Almarhum Zulkifli Harahap, dengan kapasitas Hamzah Zakaria sebagai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), persoalan yang akan di bahas di Istana Negara bersama seluruh kepala daerah se Indonesia, dapat terwakilkan seluruh aspirasi masyarakat Langkat dalam menyampaikan segala bentuk permasalahannya.

            Namun yang lebih menariknya saat Hamzah Zakaria yang satu-satunya bukan merupakan Bupati atau Walikota pada undangan pertemuan di Istana Presiden tersebut, seluruh Bupati dan Walikota se Indonesia mempercayakan Hamzah Zakaria menjadi Ketua Delegasi saat menghadap Presiden Soeharto di Istana Negara. Alasan mereka tak jauh berbeda dengan alasan Almarhum Zulkifli Hasan saat mewakilkan dirinya kepada Hamzah Zakaria menuju Istana, karena dianggap para kepala daerah se Indonesia, seorang ketua HNSI sangatlah refresentatif berbicara mengenai persoalan nelayan.

            Maka dengan menurut peraturan Hamzah Zakaria kepada Mutiara Insani, timbul niat beliau untuk membuat sensasi positif yang diharapkan akan membuka lebar mata Presiden Soeharto untuk memperhatikan masyarakat nelayan secara lebih baik lagi. Dibuatnya spanduk yang bertuliskan “SELAMATKAN NASIB NELAYAN BANGSA INDONESIA, OMONG KOSONG BANGSA INDONESIA AKAN LEBIH BAIK JIKA NASIB NELAYAN TIDAK DIPERHATIKAN OLEH PEMERINTAH”, maka iring-iringan Kepala Daerah seluruh Indonesia dimasa itu, berjalan dan menuju ruang pertemuan yang ditentukan dengan membentangkan sepanduk yang mereka tulis tersebut.

            Namun tiba-tiba sebelum sampai mereka ke tempat yang ditentukan, di halaman istana, mereka di stop oleh para pengawal kepresidenan. Dan sempat mendapatkan teguran keras dengan melakukan hal seperti itu. Maklumlah di masa orde baru, hal-hal yang bersifat seperti yang mereka lakukan itu adalah hal yang tabu. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan Presiden Soeharto langsung berjalan tenang menghampiri mereka dan sambil tersebut, menyambut mereka dengan ucapan selamat datang serta mempersilahkan mereka semua memasuki tempat yang telah disediakan.

            Pada setelah mengambil posisi duduk masing-masing, di dada seluruh ruang telah sampai pada titik ketakutan yang luar biasa. Khawatir jika kemarahan Presiden berakibat fatal terhadap jabatan Bupati dan Walikota yang mereka emban, akibat dari kejahilan anak kampung nelayan itu. Namun kekhawatiran itu semuanya sirna, tatkala Soeharto bertanya-tanya dengan raut tenang dan penuh kewibawaan “Mengapa kalimat tersebut anda usung ke dalam Istana ini?”. Maka dengan penuh keyakinan dijawab oleh Hamzah Zakaria bahwa “Bapak Presiden yang kami hormati dan muliakan, sesungguhnya nenek moyang kita adalah seorang pelaut, maka bersatu dan berpadunya negeri kita ini, adalah rangkaian perjuangan yang tiada kenal menyerah dari para pelaut. Dan pelaut sangat identik dengan nelayan, maka jika para nelayan mendapatkan perhatian yang baik dari pemerintah, semangat juang yang telah ditorehkan nenek moyang kita dari para pelaut, dapat diteruskan dengan semangat perjuangan mempersatukan nusantara, para nelayan memberikan yang terbaik untuk ibu pertiwi”, ujar Hamzah Zakaria dihadapan Soeharto.

            Dengan jawaban yang diberikan Hamzah Zakaria, Presiden Soeharto sangat senang dan bahagia, dan ia berjanji akan meningkatkan taraf hidup para nelayan yang notabene adalah titisan nenek moyang kita yang nyatanya adalah seorang pelaut.

            Sesungguhnya apa yang penulis sampaikan di atas tadi, adalah bagaimana tatkala titik puncak keberadaan Hamzah Zakaria di Istana Presiden merupakan bahagian penting terhadap segala usaha dan upaya yang telah ia lakukan dalam membangun kekayaan HNSI di Langkat khususnya dan Sumatera Utara pada umumnya.

            Dalam kurun waktu lebih kurang 50 tahun, Hamzah Zakaria berkecimpung di HNSI demi memperjuangkan nasib para nelayan, dan separuh waktu dari 30 tahun tersebut Hamzah Zakaria berada pada pucuk pimpinan HNSI Langkat. Artinya, peran penting dan segala sektor strategis yang telah dibangun Hamzah Zakaria terhadap pemberdayaan masyarakat nelayan.

            Dalam mengarungi perjalanan hidupnya, pasang surut kehidupan kerap menjalani lintasn diari kesehariannya. Berkat keseriusannya mengabdi karir, dunia berorganisasi di Gema MKGR (sayap Golkar) menghantarkannya dari Golkar, duduk menjadi anggota DPRD Langkat pada tahun 1997.

            Kilas apik sejarah yang terlupakan, adalah tatkala rancangannya untuk mendisain Lambang Kabupaten Langkat mendapat persetujuan dari Pemkab Langkat. Dan hingga saat ini secara nyata menjadi Lambang Pemkab Langkat.

            Perjuangan dalam mebela hak-hak nelayan dan melakukan penolakan terhadap perambah hutan bakau untuk dijadikan arang, jelas bukan main-main. Pertaruhan harga diri, marwah dan martabatnya menjadi jaminan, dan tidak hanya sampai disitu, jika secara akal manusia biasa, nyawapun hampir melayang demi memperjuangkan hak-hak masyarakat di pesisir pantai Langkat.

            Adalah hal yang sangat tragis dan penuh drama kehidupan nyawa, menghampiri perjalanan waktu Hamzah Zakaria. Saat tingginya suhu dilapangan akibat penolakan terhadap perambah hutan bakau di Langkat, secara sistematis Hamzah Zakaria dijemput oleh kawanan tertentu dan langsung dibawa ke suatu tempat yang akhirnya diketahuinya tempat tersebut adalah “Gaperta (Gabungan Pertahanan) Tempat pembantaian Manusia secara Sadis di Medan pada Masa Orde Baru”.

            Menurut Hamzah Zakaria, sesampainya dibawa ke tempat tersebut, ia langsung dimasukkan ke dalam kerangkeng khusus yang hanya dapat ditempati dengan posisi berlutut. Jika bergerak ke kiri atau ke kanan, apalabi bangun ke atas, maka tancapan paku runcing siap menancap di badan. Memang tak terelakkan, dengan sempitnya posisi tersebut, sekujur tubuhnya bercucuran darah akibat gesekan badannya, dan selama 3 hari tak diberi  makan dan minum.

            Menurut pengakuan Hamzah Zakaria, hanya minum air kencingnya sendiri yang ditampung ditangannyalah yang dapat melepas dahaga sekaligus lapar yang dideritanya. Dan saat puncak kesadisanpun, datanglah saat pagi itu.

            Sambil diseret oleh para penjaga tempat tersebut, dilemparkanlah tubuhnya ke dalam kolam buaya ditempat lokasi pembantaian sadis itu. Hamzah Zakaria hanya mampu berteriak dan minta tolong, sementa beberapa ekor buaya tua yang sangat lapar, semuanya telah siap untuk menyongsong Hamzah Zakaria, dan ia masih dapat melihat sekilas ke atas, betapa disekelilingnya orang-orang melihatnya dengan penuh ejekan dan tertawaan dan tanpa belas kasihan akan menyaksikan tubuh polos Hamzah Zakaria menjadi santapan empuk para buaya tersebut.

            Namun apa yang terjadi? Ketika sang Kuasa berkata lain, dan masih menyayangi hamba-Nya yang selau mengabdikan dirinya secara pasrah kehadirat-Nya. Walau secara kasat mata manusia adalah sebuah kemustahilan, saat seorang manusia telah diceburkan ke kolam buaya, maka binasalah manusia tersebut menjadi santapan buaya lapar tersebut.

            Nyatanya takdir Allah berkata lain, tak seekor buayapun berani mendekat kepada Hamzah Zakaria. Jangankan mendekat, satupun buaya tak ada yang bergerak dari posisinya dan pada akhirnya membalikkan badannya masing-masing kembali menepi ke pinggir kolam buaya.

            Melihat kenyataan itu, bergegas para eksekutor di tempat pembantaian Gaperta itu langsung mengangkat tubuh lemah Hamzah Zakaria ke atas, dan langsung dibersihkan serta diberikan perawatan kesehatan yang sebaik-baiknya. Aneka ragam makanan disajikan untuk Hamzah Zakaria, dan seluruh orang yang ada di lokasi tempat tersebut akhirnya sangat menaruh hormat kepada Hamzah Zakaria yang mereka fikir mempunyai ilmu laduni yang sangat dikjaya, hingga buayapun takut memakan tubuh Hamzah Zakaria.

            Padahal menurut Hamzah Zakaria, dia tidak pernah menuntut ilmu apapun yang bersifat kekebalan tubuh atau tahan dunia lainnya. Sejak kurun waktu 40 tahun lebih, AMALAN AYAT SERIBU DINAR telah dikekalkannya dalam amalan hidup sehari-hari. Dan amalan tersebut dilakukan dengan pasarah sepasrah pasarahnya semata mengharap ridha zat Allah yang maha suci. Dan ketika di dalam kolam buaya itupun, saat ketakuktan teriakan tolong … tolong … tolong, yang keluar dari mulut Hamzah Zakaria, tak pernah lepas sedetikpun dihatinya rangkaian kalimat doa dan AMALAN AYAT SERIBU DINAR tersebut.

            Hamzah Zakaria pun pasrah dan membaca apa yang ia tahu sambil menunggu kematian, tanpa disadarinya buaya-buaya itu lari dan tidak jadi menyantap dirinya. Mereka yang menonton tercengang dan penjagapun menyuruh ia naik, dan member pakaian selengkapnya dan member makan, diantara penjaga mengajukan pertanyaan “Apa ilmu Bapak, belum pernah ada yang selamat dikolam buaya ini, sebelum Bapak pulang ajarkan pada kami”.

            Ia menjawab, “masuk Islam lah dulu”, alhamdulilah selama di Gaperta sebanyak 6 (enam) orang berhasil ia Islamkan termasuk tukang pukul. Sebab ia diculik karena hutan Mangrove di Kabupaten Langkat telah dimiliki oknum anak pejabat tinggi bekerjasama dengan WNI keturunan Cina. Sehari kemudian rombongan pemuda sebanyak enam mobil datang terdiri dari berbagai organisasi di pimpin oleh SYAMSUL ARIFIN, SE (mantan Bupati Langkat/mantan Gubsu) yang saat itu menjabat sebagai Ketua KNPI Sumatera Utara sambil berteriak berkata untuk membebaskan Hamzah. Menurut fikiran Hamzah Zakaria saat itu, mereka pasti tukang bunuh. Sebab ia tak mengenal SYAMSUL ARIFIN kecuali mengenal ayahnya HASAN PERAK mantan anak buahnya di HNSI.

            Pintu penjara pun dibuka, Hamzah Zakaria dimasukkan ke dalam mobil SYAMSUL ARIFIN dan dibawa pulang kerumahnya. Setelah diberi makan Hamzah Zakaria dibawa ke Stabat, di rumah Bupati yang waktu dijabat oleh ZULKIFLI HARAHAP. Bupati dan Istrinya menepung tawari menurut adat melayu, sorenya baru diantar pulang kerumah dan dirumah Hamzah Zakaria disambut oleh sanak keluarga disertai ratapan tangis karena menurut mereka aku sudah meninggal.

            Beberapa hari kemudian Hamzah Zakaria ditepung tawari di enam Kecamatan dan sepuluh Desa, dan menurut keterangan Syamsul Arifin bahwa ayahnya Hasan Perak diperintah Paisal Tanjung seorang Panglima ABRI yang waktu itu membebaskan Hamzah Zakaria. Beberapa bulan kemudian ia pun terpilih menjadi anggota DPRD Langkat hingga tahun 1999.

            Dan dalam penuturan Hamzah Zakaria, saat setelah peristiwa dilembarkan tubuhnya ke kolam buaya pada lokasi Gapeta tersebut, H. Syamsul Arifin, SE dalam berbagia kesempatan saat bertemu dengannya, sering mencandainya dihadapan orang sekitarnya, “inilah satu-satunya manusia yang luar biasa. Buaya ajapun takut untuk memakan tubuhnya, apalagi manusia”, ungkap H. Syamsul Arifin, SE seperti yang ditirukan Hamzah Zakaria.

            Kini tokoh kharismatik yang bernama Hamzah Zakaria ini menjalani kehidupan sehari-hari dalam kelemahan fisik dan penyakit stroke berat yang dihadapinya. Begitpun, mentalitas kepribadiannya tetap membaja. Semangat pantang menyerah tetap ditunjukkannya. Sejak 16 tahun lalu, dari penyakit yang dideritanya, membuat Hamzah Zakaria semakin tawadhu.

            Hamzah Zakaria tidak pernah mengeluh dengan penyakit yang dideritanya. Walau dengan bahasa celat akibat stroke, Hamzah Zakaria tetap mampu memberikan inspirasi terhadap orang-orang yang datang mengunjunginya, dan hobby terhadap dunia karya tulis senantiasa berlanjut dan beberapa kali telah diterbitkan oleh Mutiara Insani dari hasil karyanya. Dan kini, salah satu karya terbaiknya adalah dengan menjadi salah seorang inspirator terbitnya Surat Kabar Mingguan Mutiara Insani.

            Kini walaupun sang istri tercintanya telah mendahuluinya berpulang kerahmatullah, namun anak-anaknya senantiasa dengan tulus dan penuh kasih sayang menjaga dan memperhatikannya dengan penuh terhadap segala hal untuk kebahagian Hamzah Zakaria.

            Kepada Mutiara Insani, Hamzah Zakaria kerap berujar bahwa dengan sakit yang diberikan Allah kepadanya ini, pengabdiannya kepada Allah dan sesama manusia serta khususnya keluarga besar disekelilingnya dapat ia sumbangsihkan dengan utuh. Dan jika ia selalu disibukkan dengan urusan dunia, mungkin jika tidak dalam keadaan sakit diberikan Allah kepadanya, ia akan lupa untuk mengabdikan diri sebagai hambaNya dan sesama manusia.

            Saat beberapa hari lalu Mutiara Insani menyambangi Hamzah Zakaria ke rumahnya yang berada di Jalan Bambu Runcing Lorong Gereja Tanjung Pura Langkat, Mutiara Insani masih sempat berdiskusi kecil dengannya seputar kisruh nelayan Langkat yang tiada henti-hentinya. Dan berikut ini adalah petikan Hamzah Zakaria tentang harapannya untuk seluruh hamba Allah di muka bumi yang ingin menjadi pemimpin.

            “Pertama, Allah Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan kolam ikan, menciptakan ikan yang luas yang isinya bisa diambl tanpa dibayar. Maka kepada saudara kita yang benar-benar nelayan ataupun “mengaku-ngaku” nelayan agar mengingat Allah untuk tidak berbuat semena-mena di luar ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.

            Kedua, membuat yang benar-benar berprofesi nelayan menjadi bersatu, karena mereka senasin sepenanggungan. Ketiga, menjadi peringatan bagi orang-orang yang memback up usaha illegal fishing agar berhati-hati dengan kemurkaan Allah SWT. Dan keempat, bagi para nelayan untuk lebih mengerti betapa berat perjuangan HNSI tampo dulu dalam memperjuangkan nasib nelayan”, ujar Hamzah Zakaria.

            “Adapun hakikat dari keempat hikmah diatas yang secara bijak harus disakapi dengan tegas dan langkah kongkrit oleh seorang pemimpin dalam melanjutkan jejak rekam kepemimpinannya. Sebagai pemimpin yang benar-benar memberikan ketentraman terhadap masyarakat yang dipimpinnya adalah, bukan berapa yang diajarkan, bukan berapa jumlah harta, tetapi berapa banyak yang disedekahkan. Bukan berapa jumlah anak, tapi berapa banyak anak yang shaleh. Dan bukan berapa jauh berjalan mengitari wilayah kepemimpinan seorang pemimpin di Bumi Langkat Berseri ini, tapa apa yang dibawa dari para pemimpin tersebutdari awal perjalanan kepemimpinannya hingga detik ini”, tandas Hamzah Zakaria.

PENUTUP
 
            Adapun rekapitulasi dalam perjalanan catatan hidup Hamzah Zakaria adalah saat selama berumah tangga yang paling menyedihkan yaitu anaknya tujuh orang meninggal dunia. Namun alhamdulilah ia dikaruniai anak yang masih hidup sebanyak lima orang, tiga wanita dan dua laki-laki. Meskipun penghasilan Hamzah Zakaria pas-pasan, namun ia berhasil mendidik anak-anaknya sampai sekolah lanjutan bahkan diantaranya yang telah mendapat gelar sarjana.

            Selama ia bersekolah di Medan ia tidak pernah mempunyai uang saku, ini gunanya untuk menghebat biaya hidup. Dalam berumah tangga ia sempat diusir Kepala Desa, dengan alasan ia mengajari orang pandai.

            Kakaknya yang berada di Kwala Serapuh adalah satu ibu dari lain ayah, kakaknya sangat menyayangi Hamzah Zakaria dan sekarang kakaknya itu telah meninggal dunia.

            Hal-hal aneh yang pernah Hamzah Zakaria alami yaitu ia pernah kehabisan susu anaknya, orang jual pun tidak ada karena ia tinggal di Desa terpencil dan ia tidak mempunyai uang untuk membei susu ke kota. Ia pun pergi melaut untuk mencari rezeki, sesampainya ia dimuara Kapal Angkatan Laut memanggilnya sehingga ia mencari-cari kesalahanku, sesampainya ke Kapal Angkatan Laut ia diberikan sekaleng susu dalam ukuran besar, kira-kira satu kilo gram alasannya karena mereka salah beli.

            Semasa Hamzah Zakaria bertani di Tanjung Bedukang di sekitar lahan tani ini hutam rimba tidak ada kedai ataupun warung, keluarganya kehabisan beras. Disawah ia memasang bubu, ia hendak melihat bubu itu bermaksud kalau ada ikan dapat mengganti beras. Kebetulan bubunya penuh dengan ikan, tiba-tiba ada tetangga yang ingin membelinya, tapi uangnya tidak ada hanya ditukar dengan beras sebanyak 30 Kg.

            Maka menurut hemat penulis, sekelumit rangkaian kisah tentang Hamzah Zakaria belumlah mewakili dari secuil sepak terjangnya demi mengharumkan nama Langkat pada khususnya dan Sumatera Utara umumnya. Namun setidaknya, keteguhan hati dan ketegaran jiwa dari Hamzah Zakaria, dapat menginspirasi kita untuk senantiasa berbuat yang terbaik dalam sesulit apapun keadaan kita menjalani hidup dan kehidupan.

            Intinya motivasi kita dalam membangun inovasi hidup, dari karya cipta menuju karya nyata. Legitimasi kesombongan intelektual anak manusia, kerap menghiasi wacana sensualitas pertaruhan harkat dan martabat anak bangsa untuk mendapatkan yang lebih baik lagi.

            Dan seorang Hamzah Zakaria mampu membantah keadaan tresebut, dengan latar belakang anak kampung pelosok pesisir Langkat yang sangat jauh dari jangkauan umum, mampu menegakkan dasar realitas keyakinan dan ketekunan meniti asa menuju cita berbekal semangat juang pantang menyerah, mampu membaca situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan, terhadap identitas menata pondasi bangunan yang bermanfaat untuk ummat. Wallahu’alam Bissahawab. 

Online Visitors


Popular Posts

Subcribe

Sign up and receive for eNews & Updates post direct to your email.
download free blogger template everyday download free blogger template everyday download free blogger template everyday download free blogger template everyday

My Video