| Murid SD Negeri Blok-18, berlokasi di Jalan PT Socfindo Afdeling IV Kecamatan Gunung Meriah Aceh Singkil, dengan kondisi ruang belajar sangat memperihatinkan. (DELINEWSONLINE – KHAIRUMAN/DEC & MgE) |
Padahal pembangunan RKB tersebut, sangat perlu dilakukan. Mengingat kondisi dan daya tampung gedung SD Negeri Blok-18 di Jalan PT Socfindo Afdeling IV Gunung Meriah saat ini, sudah tidak layak dan belum memiliki perpustakaan. Demikian tegas Kepala SD Negeri Blok-18 Yuliana, sa’at melakukan tatap muka dengan para wartawan di tempatnya bertugas Selasa(4/8).
Menurut Kepala SD Negeri Blok-18 Yuliana, di dalam proses belajar mengajar dua lokal tersebut dipakai lima rombel, yaitu untuk murid kelas II hingga kelas V. Sedangkan untuk murid kelas I, terpaksa menggunakan ruang kantor, tutur Yuliana memperjelas.
TERISOLIR dan TANTANGAN
Menjawab pertanyaan wartawan, Yuliana membenarkan pengajuan pembangunan dua RKB untuk SD Negeri Blok-18, sudah disetujui pihak Dinas P dan P Aceh Singkil serta dimasukkan ke dalam anggaran, hingga proses tender.
Namun kendalanya, pihak PT Socfindo yang belum memberikan kepastian, kapan diterbitkan mereka izin penggunaan lahan tersebut. Pertimbangan Yuliana, di atas lahan akan berdirinya bangunan RKB dimaksud, pihak PT Socfindo terpaksa mengorbankan sembilan batang pohon Kelapa Sawit,” ujar Yuliana memprediksi problema.
“Saya berharap PT Socfindo segera mengizinkan pembebasan lahannya, guna lokasi penambahan RKB SD Negeri Blok-18. Apabila tidak memperoleh persetujuan PT Socfindo, anggaran yang sudah ditenderkan pemerintahan setempat akan dialihkan pembangunannya ke SD Negeri 1 Silulusan Kecamatan Gunung Meriah”, kata Yuliana bercampur rasa kecewa.
Di sisi lain Yuliana khawatir,”SD Negeri Blok-18 di Jalan PT Socfindo Afdeling IV Kecamatan Gunung Meriah, akan tergolong satuan pendidikan yang terisolir. Layaknya para tenaga guru yang bekerja di SD Negeri Blok-18 tersebut, hanya diprioritaskan mengajar anak - anak karyawan setempat.
Menyinggung jarak tempuh menuju lokasi pusat pembelajaran, selain terbilang jauh dan ruas jalan yang dilalui peserta belajar mengajar penuh tantangan. Karena ruas jalan yang akan dilalui tersebut, terdapat jembatan sepanjang kurang lebih 50 meter dengan posisi sangat curam. Kemudian hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, sementara di bawah jembatan dimaksud terhampar sungai yang terjal”, ungkap Yuliana polos.
Liputan : Khairuman
Editing : DEC/MgE
