![]() |
| Illustrasi |
Ternyata Sansirita Production cukup sukses, ketika menggelar film tersebut di Gedung Olah Raga (GOR) Jalan KH Wahid Hasyim Stabat Langkat. Ironinya tak sedikit di antara 6 ribu penonton, yang menyaksikan tayangan film “Selembar Itu Berarti”, tanpa sadar meneteskan air mata hingga membasahi pipi.
Dikarenakan mereka, larut dalam perasaan terharu dan kesedihan. Ketika penonton, menyaksikan lakon yang diperankan Putri Dalilah Siagian 12, Raihan F Vanlendiaz 9, Ratu Rizka Apriani 11, Nisa Wafer 18, Cut Indah Rezky 30, Gloria Sinulingga 45, Supartik 62.
Film besutan Dedy Wafer itu bercerita tentang kakak beradik (Putri dan Diaz), yang berjuang keras di tengah keterbatasan ekonomi. Apalagi, di usia yang begitu dini, sang ibu (Indah) menyusul ayah mereka ke liang lahat.sungguh mengharukan sehingga para guru sebagai tenaga pendidik mempunyai kesan yang berarti bagi mereka. Kata sejumlah guru kepada Delinesonline seusai melihat penayangan Film tersebut.
Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu, SH melalui Wabup Sulistianto sambutannya mengatakan, dirinya sangat bangga atas karya anak-anak muda dalam film bertema pendidikan ini. Apalagi, shootingnya sepenuhnya dilakukan di Kabupaten Langkat.
Termasuk Asisten II Pemkab Langkat, Hermansyah alias Boy yang turut hadir mewakili Bupati Langkat mengatakan, dirinya sangat salut dengan penayangan film ini. Apalagi dia ada melihat banyak penonton yang terharu hingga meneteskan air mata.
Sementara sambutan, Dedy Wafer, selaku sutradara mengatakan, film ini sebagai salah satu bukti bahwa telenta-talenta di Sumut tidak kalah dengan artis ibukota. Untuk menghimpun bakat-bakat terpendam anak-anak muda di sini, dia bersama tim Sansirita Production secara resmi memperkenalkan sekolah akting pertama di Pulau Sumatera. "Kami mengundang bapak ibu sekalian untuk mendaftarkan anaknya dalam sekolah ini,".
Meski penayang film “Selembar Itu Berarti” cukup banyak mendapat sambutan dari para Guru maupun pejabat, tetapi sebaliknya, setelah Film yang bedurasi hampir 120 menit itu selesai ditayangkan, banyak masyarakat selaku wali murid merasa kecewa. Sehingga menimbulkan Pro dan kontra di kalangan mereka. Karena penayangan Film ini masih dalam katagori hari kerja atau hari belajar bagi murid sekolah.
Sebagaima yang diutarakan Sukariadi 54 salah seorang pedagang penduduk Kecamatan Stabat, sebagai wali murid dia merasa kecewa. karena pemutaran Film tersebut diwaktu hari kerja maupun hari belajar anak. Dengan pemutaran film tersebut para Guru diwajibkan menonton/menyaksikan dan dipungut biaya sebesar Rp 30 ribu /guru, sedangkan para siswa/siswi sekolah harus diliburkan secara paksa.
Menurut Sukariadi, meliburkan siswa-siswa Sekolah secara paksa disaat jam belajar-mengajar sedang berjalan , jelas menimbulkan berbagai celoteh dikalangan masyarakat bahkan ada yang mengatakan itu “Sudah Merusak Dunia Pendidikan.di Kabupaten Langkat katanya.
Liputan : Bono Yudha/R Mulyono
Editing : DEC and Managing Editor

